Pohon dan rimba bukan sekadar tempat beriadah atau bergambar. Ia penuh makna bagi yang mahu mengambil pelajaran tentang dirinya. Penulis tidak perlu menceritakan kepentingan tumbuhan kepada bumi dan manusia kerana ia telah diajarkan di sekolah dan diiklankan dengan meluas. Mari kita melihat ke dimensi pelajaran yang lain, iaitu apa yang diketengahkan oleh Al Quran dan hadis tentang penciptaan pohon.
Allah SWT mengungkapkan perbandingan keluasan ilmunya dengan banyaknya pokok di muka bumi. Justeru manusia tidak boleh angkuh dengan pengetahuan yang diperolehi tentang alam ini dan berbuat kerosakan.
Dan sekiranya segala pohon yang ada di bumi menjadi pena, dan segala lautan (menjadi tinta), dengan dibantu kepadanya tujuh lautan lagi sesudah itu, nescaya tidak akan habis kalimah-kalimah Allah itu ditulis. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana. (Surah Luqman 31:27)
Pohon menjadi tanda dan perantara Allah menunjukkan kekuasaannya kepada orang yang beriman.
Dan di bumi ada beberapa potong tanah yang berdekatan (tetapi berlainan keadaannya); dan padanya ada kebun-kebun anggur, dan jenis-jenis tanaman serta pohon-pohon tamar (kurma) yang berumpun dan yang tidak berumpun; semuanya disiram dengan air yang sama; dan Kami lebihkan buah setengahnya dari setengahnya yang lain (pada bentuk, rasa, dan baunya) Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang (mahu) berfikir serta. (Surah Ar-Ra’d 13:4)
Disebabkan besarnya keperluan kehidupan manusia terhadap pohon, Allah memerintahkan manusia untuk berfikir tentang pohon-pohon di kebun dan ladang yang diusahakan bagi mendapatkan manfaat darinya. Terdapat banyak ayat di dalam Al Quran yang boleh ditekuni apabila merenung kejadian pohon dan rimba. Al Quran menjelaskan pohon sebagai makhluk yang bersujud dan bertasbih kepada Allah.
Tidakkah engkau mengetahui bahawa segala yang ada di langit dan di bumi tunduk sujud kepada Allah dan (di antaranya termasuklah) matahari dan bulan, dan bintang-bintang, dan gunung-ganang, dan pokok-pokok kayu, dan binatang-binatang, serta sebahagian besar dari manusia? Dan banyak pula (di antara manusia) yang berhak ditimpa azab (disebabkan kekufurannya dan maksiatnya); dan (ingatlah) sesiapa yang dihinakan oleh Allah maka ia tidak akan beroleh sesiapapun yang dapat memuliakannya. Sesungguhnya Allah tetap melakukan apa yang dirancangkanNya. (Surah Al-Hajj 22:18)
Langit yang tujuh dan bumi serta sekalian makhluk yang ada padanya, sentiasa mengucap tasbih bagi Allah; dan tiada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memujiNya; akan tetapi kamu tidak faham akan tasbih mereka. Sesungguhnya Ia adalah Maha Penyabar, lagi Maha Pengampun. (Surah Al-Israa’ 17:44)
Ia juga menjadi saksi nubuwah ketika peristiwa Allah SWT memanggil nabi Musa AS dan tongkat kayu menjadi mukjizat untuk baginda.
Maka ketika ia sampai ke tempat api itu, (kedengaran) ia diseru dari tepi lembah yang di sebelah kanan, di tempat yang dilimpahi berkat, dari arah pohon kayu (yang ada di situ): “Wahai Musa, sesungguhnya Akulah Allah Tuhan sekalian alam. “Dan (sekarang) campakkanlah tongkatmu”. (Ia pun mencampaknya), maka apabila ia melihat tongkatnya itu (menjadi seekor ular besar) bergerak cepat tangkas, seolah-olah seekor ular kecil, berpalinglah ia melarikan diri dan tidak menoleh lagi. (Lalu ia diseru): “Wahai Musa, datanglah kemari dan janganlah engkau takut. Sesungguhnya engkau dari orang-orang yang beroleh aman. (Surah Al-Qasas 28:30-31)
Pohon telah menjadi saksi perjalanan dakwah Rasulullah SAW dan keimanan sahabat dalam peristiwa Baiatur Ridhwan.
Demi sesungguhnya! Allah reda akan orang-orang yang beriman, ketika mereka memberikan pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad) di bawah naungan pohon (yang termaklum di Hudaibiyah); maka (dengan itu) ternyata apa yang sedia diketahuiNya tentang (kebenaran iman dan taat setia) yang ada dalam hati mereka, lalu Ia menurunkan semangat tenang tenteram kepada mereka, dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat masa datangnya. (Al-Fath 48:18)
Rujukan:
- Kisah Pohon daripada Al Quran dan Hadis. Adi Mustika. 2013. Kemilau Publika Sdn. Bhd.